Nama : Husain
Gelar : Sayyidu Syuhada', As-Syahid bi Karbala
Julukan : Aba Abdillah
Ayah : Ali bin Abi Thalib.
lbu : Fatimah Az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis 3 Sya'ban 3 H.
Hari/Tg] Wafat : Jum 'at 10 Muharram 61 H.
Umur : 58 Tahun
Sebab Kematian : Dibantai di Padang Karbala
Makam : Padang Karbala
Jumlah anak : 6 orang; 4 laki-laki dan 2 perempuan
Anak laki-laki : Ali Akbar, Ali al-Autsat, Ali al-Asghar, dan Ja’far
Anak Perempuan ; Sakinah dan Fathimah
Riwayat Hidup
Sabda Rasulullah saww: "Wahai putraku al-Husein, dagingmu adalahdagingku dan darahmu adalah darahku, engkau adalah seorang pemimpinputra seorang pemimpin dan saudara dari seorang pemimpin, engkau adalahseorang pemimpin spiritual, putra seorang pemimpin spiritual dansaudara dari pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang berasal dariRasul, putra Imam yang berasal dari Rasul dan Saudara dari Imam yangberasal dari Rasul, engkau adalah ayah dari semua Imam, yang ke semuaadalah al- Qo'im (Imam Mahdi)." (14 Manusia Suci Hal 92)
Salman al-Farisi r.a. berkata:"Aku menemui Rasulullah s.a.w, dankulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi menciumpipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: "Engkau seorangjunjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan;engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam;engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilanhujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi."(al-Ganduzi, Yanabi’ al Mawaddah)
Berkata Jabir bin Samurrah:"Saya ikut bersama ayah menemui Nabi s.a.w, lalu saya mendengar beliauhersabda: "Persoalan lima ini belum akan pantas sebelum berjalanpemerintahan 12 (dua belas) khalifah di tengah-tengah mereka". Kemudianbeliau mengatakan sesuatu yang tidak pernah saya dengar. Karena itu,beberapa waktu kemudian saya bertanya kepada ayah: "Apa yang beliaukatakan?". Nabi mengatakan: "Semua khalifah itu berasal dari kalanganQuraish". Jawab ayahku. (Shahih Muslim Jilid 3, Bukhari, Al-Tirmizi danAbu Daud)
Di tengah kebahagiaan dan kerukunan keluargaFathimah Az-Zahra lahirlah seorang bayi yang akan memperjuangkankelanjutan misi Rasulullah s.a.w. Bayi itu tidak lain adalah Husein binAli bin Abi Thalib, yang dilahirkan pada suatu malam di bulan Sya'ban.
Rasululullah s.a.w bertanya pada Imam Ali bin Abi Thalib: "Engkauberinama siapa anakku ini?" Saya tidak berani mendahuluimu wahaiRasulullah". Jawab Ali. Akhirnya Rasululullah s.a.w mendapat wahyu agarmenamainya "Husein". Kemudian di hari ketujuh, Rasulullah bergegas kerumah Fatimah Az-Zahra dan menyembelih domba sebagai aqiqahnya. Laludicukurnya rambut al-Husein dan Rasul bersedekah dengan perak seberatrambutnya yang kemudian mengkhatannya sebagaimana upacara yangdilakukan untuk Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Sebagaimana ImamHasan, beliau juga mendapat didikan langsung dari Rasulullah s.a.w. Dansetelah Rasulullah meninggal, beliau dididik oleh ayahnya. Hinggaakhirnya Imam Ali terbunuh dan Imam Hasan yang menjadi pimpinan saatitu. Namun Imam Hasan pun syahid dalam mempertahankan Islam dan kiniImam Husein yang menjadi Imam atas perintah Allah dan Rasul-Nya sertawasiat dari saudaranya. Imam Husein hidup dalam keadaan yang palingsulit. Itu semua merupakan akibat adanya penekanan dan penganiayaanserta banyaknya kejahatan dan kedurjanaan yang dilakukan Muawiyah.Bahkan yang lebih buruk lagi, ia menyerahkan ke khalifahan kaummuslimin kepada anaknya Yazid, yang dikenal sebagai pemabuk, penzina,yang tidak pernah mendapat didikan Islam, serta seorang pemimpin yangsetiap harinya hanya bermain dan berteman dengan kera-kerakesayangannya.
Hukum-hukum Allah tidak dilakukan,sunnah-sunnah Rasululullah ditinggalkan dan Islam yang tersebar bukanlagi Islamnya Muhammad s.a.w, melainkan Islamnya Muawiyah serta Yazidyang kenal dengan kerusakan dan kedurjanaan. Imam Husein merupakantokoh yang paling ditakuti oleh Yazid. Hampir setiap kerusakan yangdilakukannya ditentang oleh Imam Husein dan beliau merupakan seorangtokoh yang menolak untuk berbaiat kepadanya. Kemudian Yazid segeramenulis surat kepada gubenurnya al-Walid bin Utbah, danmemerintahkannya agar meminta baiat dari penduduk Madinah secara umumdan dari al-Husein secara khusus dengan cara apapun.
Melihatitu semua, akhirnya Imam Husein berinisiatif untuk meninggalkanMadinah. Namun sebelum meninggalkan Madinah beliau terlebih dahuluberjalan menuju maqam datuknya Rasulullah s.a.w, serta shalatdidekatnya dan berdoa: "Ya Allah ini adalah kuburan nabi-Mu dan akuadalah anak dari putri nabi-Mu ini. Kini telah datang kepadakupersoalan yang sudah aku ketahui sebelumnya. Ya Allah! Sesungguhnya akumenyukai yang maruf dan mengingkari yang mungkar, dan aku memohonkepada-Mu, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia, melalui haqorang yang ada dalam kuburan ini, agar jangan Engkau pilihkan sesuatuuntukku, kecuali yang Engkau dan Rasul-Mu meridhainya" ( Abdul RozaqMakram, Maqtal al-Hasan hal 147).
Setelah menyerahkan segalaurusannya kepada Allah, beliau segera mengumpulkan seluruh Ahlul-Baitdan pengikut-pengikutnya yang setia, lalu menjelaskan tujuan perjalananbeliau, yakni Mekkah.
Mungkin kita bertanya-tanya, apasebenarnya motivasi gerakan revolusioner yang dilakukan Imam Huseinhingga beliau harus keluar dari Madinah. Imam Husein sendiri yangmenjelaskan alasannya kepada Muhammad bin Hanafiah dalam surat yangditulisnya: "Sesungguhnya aku melakukan perlawanan bukan dengan maksudberbuat jahat, sewenang- wenang, melakukan kerusakan atau kezaliman.Tetapi semuanya ini aku lakukan semata-mata demi kemaslahatan umatdatukku Muhammad s.a.w. Aku bermaksud melaksanakan amar ma’ruf nahimungkar, dan mengikuti jalan yang telah dirintis oleh datukku dan jugaayahku Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah barangsiapa yang menerimakudengan haq, maka Allah lebih berhak atas yang haq. Dan barang siapayang menentang apa yang telah kuputuskan ini, maka aku akan tetapbersabar hingga Allah memutuskan antara aku dengan mereka tentang yanghaq dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan."
Setelahmelakukan perjalanan panjang, akhirnya rombongan Imam Husein sampai dikota Makkah, yaitu suatu kota yang dilindungi Allah SWT yang dalamIslam merupakan tempat yang di dalamnya perlindungan dan keamanandijamin. Peristiwa ini terjadi di akhir bulan Rajab 60 Hijriah.
Selama empat bulan di Makkah Imam banyak berdakwah dan membangkitkan semangat Islam dari penduduk Makkah.
Dan ketika tiba musim haji, Imam segera melaksanakan ibadah haji danberkhutbah di depan khalayak ramai dengan khutbah singkat yangmengatakan bahwa beliau akan ke lraq menuju kota Kufah.
Selainkarena keamanan Imam Husein sudah terancam, ribuan surat yang datangnyadari penduduk kota Kufah juga menjadi pendorong keberangkatan ImamHusein ke kota itu. Dan sehari setelah khutbahnya itu, Imam Huseinberangkat bersama keluarga dan para pengikutnya yang setia, gunamemenuhi panggilan tersebut.
Ketika dalam perjalanan, ternyatakeadaan kota Kufah telah berubah. Yazid mengirimkan lbnu Ziyad gunamengantisipasi keadaan. Wakil Imam Husein (Muslim bin Aqil), diseretdan dipenggal kepalanya. Orang-orang yang setia segera dibunuhnya.Penduduk Kufah pun berubah menjadi ketakutan, tak ubahnya laksana tikusyang melihat kucing. (Abdul Karim AL-Gazwini, al-Wasaiq al-Rasmiah LiTsaurah al-Husein Hal 36).
Sekitar tujuh puluh kilometer dariKufah di suatu tempat yang bernama "Karbala", Imam Husein besertarombongan yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang; 40 (empat puluh)laki-laki dan sisanya kaum wanita; dan itu pun terdiri dari keluargabani Hasyim, baik anak-anak, saudara, terdekat dan saudara sepupu;telah dikepung oleh pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30 (tigapuluh) ribu orang.
Musuh yang tidak berperikemanusiaan itu,melarang Imam dan rombongannya untuk meminum dari sungai Efrat.Padahal, anjing, babi dan binatang lainnya bisa berendam di sungai itusepuas-puasnya, sementara keluarga suci Rasulullah dilarang mengambilair walaupun seteguk.
Penderitaan demi penderitaan, jeritandemi jeritan, pekikan suci dari anak-anak yang tak berdosa menambahsedihnya peristiwa itu. Imam Husein yang digambarkan oleh Rasul sebagaipemuda penghulu surga, yang digambarkan sebagai Imam di saat duduk danberdiri, harus menerima perlakuan keji dari manusia yang tidak mengenalbatas budi.
Pada tanggal 10 (sepuluh) Muharram 61 Hijriah, 680Masehi), pasukan Imam Husein yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orangtelah berhadapan dengan pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah30.000 (tiga puluh ribu) orang. Seorang demi seorang dari pengikutal-Husein mati terbunuh. Tak luput keluarganya juga mati dibantai.Tubuh mereka dipisah-pisah dan diinjak-injak dengan kudanya. Hinggaketika tidak ada seorangpun yang akan membelanya beliau mengangkatanaknya yang bernama Ali al-Asghar, seorang bayi yang masih menyususambil menanyakan apa dosa bayi itu hingga harus dibiarkan kehausan.Belum lagi terjawab pertanyaannya sebuah panah telah menancap di dadabayi tersebut dan ketika itu pula bayi yang masih mungil itu harusmengakhiri riwayatnya didekapan ayahnya, Al-Husein.
Kinitinggallah Al-Husein seorang diri, membela misi suci seorang nabi, demiprojek Allah apapun boleh terjadi, asal agama Allah mampu tegakberdiri, badan pun boleh mati. Perjuangan Al-Husein telah mencapaipuncaknya, tubuhnya yang suci telah dilumuri darah, rasa haus pun telahmencekiknya. Tubuh yang pernah dikucup dan digendong Rasulullah s.a.wkini telah rebah di atas padang Karbala. Lalu datanglah Syimr, lelakiyang bertempang menakutkan, menaiki dada al-Husein lalu memisahkahkepala beliau serta melepas anggota tubuhnya satu demi satu.
Setelah kepergian Imam Husein, pasukan musuh menjarah barang-barangmilik Imam dan pengikutnya yang telah tiada. Kebiadaban mereka tidakcukup sampai di sini, mereka lalu menyerang kemah wanita danmembakarnya serta mempermalukan wanita keluarga Rasulullah. Rombonganyang hanya terdiri dan kaum wanita itu, kemudian dijadikan sebagaitawanan perang yang dipertontonkan dan satu kota ke kota lain.
Rasulullah yang mendirikan negara Islam dan membebaskan mereka darikebodohan. Namun keluarga Umayah yang tidak tahu membalas budi telahmemperlakukan keluarga Rasulullah semena-mena. Beginikah cara umatmumembalas kebaikanmu wahai Rasulullah s.a.w? Benarlah sabda Rasulullahyang berbunyi: "Wahai Asma! Dia (al-Husein) kelak akan dibunuh olehsekelompok pembangkang sesudahku, yang syafaatku tidak akan sampaikepada mereka."
Pembicaraan tentang Imam Husain adalah pembicaraan yang dipenuhi dengan kepahlawanan dan pengorbanan.
Maqtal Al-Husain bin 'Ali bin Abi Thalib
Shallallahu ‘alaika ya Aba ‘Abdillah
Shallallahu 'alaika ya Mazlum bi Karbala
Shallallahu 'alaika ya Syahid bi Karbala
Salam sejahtera bagimu ya Aba ‘Abdillah al-Husain bin 'Ali (as.)
Salam sejahtera bagimu wahai putra Rasulullah (saw.)
Salam sejahtera bagimu wahai putra Fatimah az-Zahra. (as.)
Pertama-tama marilah kita dengar beberapa sabda Nabi Muhammad s.a.w.tentang Husain "Husainun minni wa ana min Husaini. Ahabballah manahabba Husaina. Husain sibthun minal asbath. "
(Husain adalahbagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri Husain. SemogaAllah mencintai orang yang mencintai Husain, dan Husain adalah cucuistimewa dari cucu-cucuku".
Hadis lain, "Innal Hasana wal Husain Sayyida syababi Ahlil Jannah", Sungguh Hasan dan Husain adalah dua pemuka pemuda syurga.
Ibnu Hajar mencatat dalam kitabnya at-Tahzib riwayat Ummu Salamah,:"Suatu hari Hasan dan Husain sedang bermain di rumahku, di hadapandatuknya Rasulullah s.a.w. Tidak lama berselang, malaikat Jibrildatang. Dia berkata sambil menunjuk ke arah Husain, "ya Muhammad, kelakummatmu akan membunuh putramu ini. Mendengar itu Nabi kemudianmenangis. Dipanggilnya Husain dan dipeluknya erat-erat ke dadanya.Kemudian Nabi memanggilku, kata Ummu Salamah, dan memberiku sebongkahtanah. Setelah mencium bongkahan tanah itu, Nabi berkata, "ya UmmuSalamah, di tanah ini ada bau Karbun wa Bala'. Kelak apabila ia berubahmenjadi darah, ketahuilah bahwa di saat itu putraku ini syahidbermandikan darah.'
Lima puluh tahun setelah wafat bagindaRasulullah saw, tepatnya tanggal10 Muharram tahun 61 Hijriah, tragediKarbala yang diucapkan oleh Nabi tersebut menjadi kenyataan. la bermuladari keengganan Husain as. untuk memberikan bai’at kepada Yazid binMu’awiyah sepeninggal ayahnya.
Kepada al-Walid, gubernurMadinah, Imam Husain berkata, “Ayyuhal Amir! Kami adalah Keluarga Nabi,Tambang Risalah, Tempat Kunjungan para malaikat, dan pusat rahmatIllahi. Karena kamilah maka Allah membuka dan mengakhiri segalasesuatu. Sementara Yazid adalah seorang yang fasik, peminum arak,pembunuh nyawa yang tak berdosa dan terang-terangan melanggar perintahAllah. Orang seumpamaku takkan mungkin akan memberinya bai'at..."
Ketika Husain didesak oleh orang-orang Mu.awiyah, terutama oleh Marwanbin Hakam, seorang yang dikatakan oleh Nabi sebagai al-la’in ibnulla’in, dengan nada yang tinggi Husain berkata, "Inna lillahi wa innailaihi raji’un... Apabila bai’at ini diberikan kepada Yazid, ituberarti pengkhianatan kepada agama Islam. Bagaimana mungkin ummat iniakan dibiarkan dipimpin oleh orang seperti Yazid." Husain kemudianberkata: 'Wahai musuh Allah! nyahlah engkau dariku. Kami adalahkeluarga Rasulullah. Kebenaran ada pada kami. Dan al-haq pasti keluardari lisan kami. Ku dengar sendiri Nabi bersabda, "Hak Khilafah adalahharam bagi keluarga Abu Sufyan dan bagi at- Thulaqa. Ibnul Thalaqa.,(yakni anak keturunan para tawanan Makkah kalian lihat Mu'awiyah beradadi atas mimbarku, maka tikamlah perutnya. Demi Allah penduduk kotaMadinah telah melihat Mu'awiyah duduk di atas minbar datukku, danmereka tidak melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Nabinya.Itulah kenapa akhimya mereka ditimpakan oleh Allah bencana anaknyaYazid, Zadahullah fin nari 'adzaban, (semoga Allah lebih menimpakanadzab yang pedih kepadanya di api neraka).
Suasana mencekam dikota Madinatur Rasul karena ancaman Yazid atas nyawa Husain menyebabkanHusain berpikir untuk pergi ke kota Mekah. Sebelum pergi, Husain as.berkunjung ke pusara datuknya di tengah malam gulita, sambil berkata:
“Assalamu 'alaika ya Rasulallah! Anal Husain ibnu Fathimah. Ana Farkhuka wabnu Farkhika..”.
Salam sejahtera kepadamu wahai Rasulallah Aku adalah Husain putranyaFatimah. Aku adalah anakmu dan anak dari putrimu. Aku adalah cucumuyang kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabi Allah bahwamereka telah menghinaku dan mengabaikan hak-hakku serta tidakmemeliharaku. Inilah keluhanku kepadamu hingga kelak aku berjumpadenganmu..."
Kemudian Husain berdiri shalat, ruku' dan sujudsepanjang malarnnya di samping pusara kekasihnya Rasulullah s.a.w.Selesai shalat Husain berdo'a:
Allahumma! Inna hadza qabrunabiyyika Muhammad... YaAllah! Ini adalah pusara Nabi-Mu Muhammad,sementara aku adalah putra dari putrinya Muhammad. Engkau Maha tahuderita yang apa kini datang kepadaku. Allahumma ya Allah! Sungguh akucinta pada yang ma'ruf dan benci pada yang munkar. Aku bermohonkepada-Mu ya Dzal Jalali wal Ikram, demi pusara ini dan demipenghuninya, agar Kau pilihkan untukku sesuatu yang di dalarnnya Kauredha padaku.""
Menjelang subuh, Husain kemudian meletakkankepalanya ke pusara datuknya. Di sana kemudian ia sejenak tertidur.Dalam tidur itu ia melihat datuknya datang dengan serombongan malaikatkepadanya. Dipeluknya Husain erat-erat ke dadanya. Diciumnya antarakedua matanya. Kemudian Nabi berkata, "Wahai putraku Husain! Sepertinyasebentar lagi kau akan terbunuh dan tersembelih di sebuah tempat danbumi karbun wa bala'. Di sana kau dikepung oleh sekumpulan orang dariummatku, dalam keadaan kau haus dan tidak diberi air minum. Tapi merekamasih mengharapkan syafaatku di hari kiamat. Demi Allah, kelak akutidak akan memberi mereka syafaat di hari kiamat..."
Setelahkunjungan terakhir ke pusara Rasulullah s.a.w., Husain kemudianberangkat ke kota Mekah bersama seluruh anggota keluarganya. SyaikhMufid meriwayatkan, di saat Husain meninggalkan kota Mekah, Husainmembaca ayat yang ada dalam surah al-Qashas (28) ayat 21, "fa kharajaminha khaifan yataraqqabu, qala rabbi najjini minal qaumidzdzalimin..." (Maka (Musa) keluar dari (kota) itu dengan ketakutanseraya berhati hati. Dia berkata, "ya Tuhanku, selamatkan aku dari kaumyang zalim.)
Husain tiba di kota Mekah pada tangga13 Sya'bantahun 60 H. Di sana beliau dan keluarganya menetap sepanjang bulanSya'ban, Ramadhan, Syawal dan Dzulkaidah.
Sepanjang empatbulan itu Husain berjumpa dengan sebagian dari sahabat-sahabat Rasulyang masih hidup tak terkecuali Ibnu 'Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair dansebagainya. Kepada mereka Husain sampaikan niatnya untuk tidakmemberikan bai'at sedikitpun kepada Yazid, meskipun untuk itu ia akanberhadapan dengan kekerasan. Ketika sebagian dari mereka menasehatiHusain untuk berdamai saja dengan Yazid, Husain malah menjawab, "Apakahaku akan berikan bai'at kepada Yazid dan berdamai dengannya, sementaraNabi s.a.w. telah berkata sesuatu yang jelas tentangnya dan tentangayahnya."
Ibnu Umar mendesak Husain agar pulang saja ke kotaMadinah untuk menghindari pertumpahan darah. 'tidak perlu Husainmemberikan bai'at, tapi juga jangan menentang Yazid. Sebab wajahsemulia Husain tidak layak ditumpahkan dan mandi bersimbahkan darah dihadapan Yazid al-mal'un. Tapi Husain menjawab ajakan Ibnu Umar dengankata-katanya yang terkenal: . "Ya Ibnu Umar! Mereka tidak akanmembiarkan aku begitu saja. Mereka akan tetap memaksaku membai'atnyaatau membunuhku. Dengarkan baik-baik wahai hamba Allah! Di antara sebabmengapa dunia ini sangat hina di sisi Allah adalah sebuah tragedidimana kepala Nabi Yahya bin Zakaria dipenggal oleh kaurnnya dankemudian ia dijadikan sebagai hadiah yang diberikan kepada pemimpinmereka yang zalim. Padahal kepala itu berbicara kepada mereka danmenyempurnakan hujahnya di hadapan mereka semua. Wahai hamba Allah!Jangan engkau lari dari membelaku. Ingatlah aku di saat-saat shalatmu.Demi Allah yang telah membangkitkan datukku Muhammad sebagai Nabi yangbashiran wa nadzira, seandainya ayahmu Umar bin Khattab hidup di zamanini, niscaya dia akan membelaku seperti dia membela datukku. Wahaiputra Umar! Apabila engkau tidak bersedia keluar bersamaku dan beratbagimu ikut bersamaku, maka itu kumaafkan. Namun jangan lupa untukmendoakan aku setelah shalat-shalatmu. Jauhi mereka dan jangan kauberikan bai'at kepada mereka sampailah segala perkara menjadi jelas."
Selama Husain berada di Mekah, ratusan bahkan ribuan surat datangkepadanya dari arah Kufah, Bashrah dan sekitarnya memintanya segeradatang ke sana untuk dijadikan sebagai Imam mereka dalam menumbangkankezaliman Yazid.
“Innahu laisa 'alaina Imam. Fa aqbilla'allaha an yajma ‘ana bika ‘alal haq”, (Kami tidak punya Imam.Datanglah ke mari. Mudah-mudahan Allah akan menyatukan kami denganmu diatas jalan kebenaran)” Begitu yang mereka tulis kepada Imam Husain.
Pada tanggal delapan Dzulhijjah tahun 60 H. Husain meninggalkan kotasuci Mekah menuju Iraq. Malam sebelumnya ia sempat berjumpa dengansaudaranya Muhammad bin al-Hanafiah. Saudaranya ini mengusulkan kepadaHusain agar pergi saja ke tempat lain yang lebih amman, ke Yamanmisalnya. Namun Husain meminta waktu untuk memikirkannya. Pada pagiharinya ketika ia berjumpa kembali dengan Husain, Muhammad al-Hanafiahmenuntut janji jawaban Husain. Husain kemudian berkata, "Wahaisaudaraku! Setelah kita berpisah tadi malam, aku berjumpa dengandatukku Muhammad s.a.w. Katanya, “ya Husain ukhruj, fainnallaha qadsyaa an yaraka qatilan” (ya Husain! Keluarlah, sebab Allah telahmenghendaki melihatmu terbunuh (di jalan-Nya). "Inna lillahi wa innailaihi raji'un..." Gumam Hanafiah.
Hari kesepuluh dari bulanMuharram tahun 61 Hijriah, adalah hari yang paling menyedihkan bagikeluarga Nabi s.a.w. Betapa tidak. Di hari itu pasukan Husain yangberjumlah lebih kurang 78 orang termasuk anak-anak telah dihadang olehtak kurangdari 30,000 pasukan yang berkuda dan bersenjata lengkap untuksiap membantainya dan menawan putra-putrinya.Di sisi lain, air sungaiFurat yang terbentang panjang dan menghidupi makhluk-makhluk padangKarbala, hatta anjing sekalipun, pada hari itu diharamkan bagi putra-putri Nabi yang suci ini.
Sejak pagi Asyura Imam Husainberupaya menyadarkan mereka untuk tidak memerangi keluarga Nabi ini.Dia berusaha maksimal untuk menghentikan pertumpahan darah yang akanberakibat buruk bagi kehidupan mereka setelahnya. Sampai-sampai Husainberteriak lantang, “
“Ayyuhan nas! Dengarlah kata-kataku, danjangan kalian terburu-buru ingin memerangiku hingga aku boleh memberikalian nasehat yang mana kalian berhak untuk mendengarnya. Lihatlahsiapa diriku dan diri kalian. Sadarlah dan perhatikan baik-baikkedudukan aku di sisi kalian. Apakah kalian boleh membunuhku danmenginjak-injak keluargaku. Bukankah aku adalah putra dari putri Nabikalian, dan putra washinya,
orang pertama yang beriman kepadaNabi-Nya? Bukankah Hamzah, penghulu para syuhada adalah bapa saudaraku? Bukankah Ja'far at-Thayyar, yang memiliki dua sayap di syurga kelakadalah bapa saudara ku? Bukankah kalian pernah mendengar sabda Nabitentangku dan saudaraku Hasan bahwa dua putra ini adalah pemuka pemudasyurga?”
Kata-kata Husain tidak banyak mengusik hati merekayang telah beku. Tapi Husain terus berupaya maksimal untuk menyentuhhari nurani mereka. Sampai beliau berkata secara emosional,
"Ayyuhan Nas, ama min mughitsin yughitsu ‘anna..., apakah masih adaorang yang mau membela kami keluarga Rasul. Apakah masih ada orang yangmau menolong kami sebagai keluarga Rasul? Apakah salah kami? Apakahdosa anak-anak dan wanita kami sehingga kalian haramkan mereka dari airFurat itu?
Kata-kata Husain terakhir tiba-tiba mengusikperasaan al-Hur bin Yazid ar-Riyahi, salah seorang dari pimpinanpasukan Umar bin Sa’ad. Sejenak ia mundur dan mencari tempat yangtepat, akhirnya ia menyebat kudanya untuk bergabung bersama Husain.Al-Hur dengan suara yang penuh sesal berkata, “Wahai putra Rasulullah,apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertaubat? Kumohon maafmu yaHusain, karena telah menakut-nakuti hati para kekasih Allah danputra-putri Nabi Allah" "Na’am. Taballahu ‘alaika. Semoga Allahmenerima taubatmu ya Hur. Kata Husain, "Anta hurrun kama waladatkaummuka hurra. Khawatir sahabat-sahabat lain menyusul Hur, tiba-tibaUmar bin Sa'ad, pimpinan pasukan musuh melesatkan anak panahnya ke arahHusain sebagai tanda dimulainya perang. Sambil berteriak Umar berkata:"Saksikan di hadapan Amir bahwa aku adalah orang pertama yangmelemparkan anak panahnya kepada Husain." Dan berikutnya ribuan anakpanah dilesatkan ke arah Husain, keluarganya dan sahabat- sahabatnya.
Peperangan yang tidak seimbang pun berkobar. Sahabat Husain satu demisatu maju dan kemudian gugur, disusul pula oleh keluargnya. Orangpertama adalah putranya yang bemama Ali al-Akbar, seorang anak remajayang mempunyai wajah yang betul-betul mirip dengan wajah datuknyaRasulullah s.a.w.
Melihat putranya ini Husain terisakmenangis. Dipeluknya erat-erat putra kesayangannya ini. Sambilmengangkat janggutnya yang telah memutih, Husain berdo'a, "ya Allah,saksikanlah betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul di hadapan merekaseorang yang mempunyai wajah, sifat dan kata-kata yang sangat miripdengan Rasul-Mu Muhammad. Bahkan ketika kami rindu kepada Rasul-Mu,kami akan memandangi wajah anak ini. Ya Allah, haramkan bagi merekakeberkahan perut bumi ini. Porak- porandakan mereka. Mereka telahmengundang kami dan berjanji untuk membela kami, tiba-tiba merekajugalah yang memusuhi kami dan memerangi kami."
Ali al-Akbarmaju ke medan perang dengan sangat tangkas sehingga mengingatkan orangakan keperkasaan datuknya Ali bin Abi Thalib as. Riwayat berkata,setelah lebih dari seratus orang tewas di tangannya, Ali kembali kekemah ayahnya dengan luka-luka yang cukup banyak. Dia berkata, "Yaabatah, (duhai ayahanda yang mulia), haus, haus. Rasa haus benar-benartelah mencekikku sehingga terasa benar beratnya besi ini.Adakah sedikitair yang bisa memberiku sedikit tenaga?'
Husain memeluk eratputra kesayangannya ini. Sebentar kemudian dia julurkan lidahnya yangsuci ke mulut anaknya yang suci. "Demi Allah, lidah Husain sendirilebih kering dari ranting-ranting yang kering hadapan yang ada dipadang Karbala." Husain berkata, "Sebentar lagi kau pasti akan berjumpadengan datukmu Muhammad yang tengah menunggumu dengan segelas air daritelaga al-kautsar. Bersabarlah wahai putraku, bersabarlah..."
Ali al-Akbar kembali ke medan perang. Gerak- geriknya diperhatikan olehayahnya yang sudah mulai tua itu. Tak lama berselang, tiba-tiba Husainmenyaksikan bagaimana anak yang masih muda ini ditikam olehmusuh-musuhnya dari berbagai arah. Ada yang memukul kepalanya, menusukdadanya, menikam perutnya, bahkan ada yang melemparkan anak panahnyasehingga jatuh persis ke lehemya. Ali al-Akbar sempat berteriakmemanggil-manggil ayahnya," ya abatah (duhai ayah)'alaika minnis salam.Kini kusaksikan datukku Rasulullah s.a.w, mengucapkan salam kepadamudan memintamu agar segera datang menemuinya..." Husain mendatangiputranya ini sambil mengibas-ngibaskan pedangnya ke setiap orang yangmenghalanginya. Husain memeluk wajah Akbar yang bersimbahkan darahsuci. Husain berkata, "qatalallahu qauman qataluka ya bunayya...,semoga Allah membunuh suatu kaum yang telah membunuhmu wahai putraku.Alangkah beraninya mereka terhadap Allah; dan alangkah nekatnya merekamenganiaya keluarga Rasulullah Sungguh, wahai putraku, apalah artinyadunia ini bagiku setelah kepergianmu..."
Kini giliran Husain,tapi sebelum itu dia minta dibawakan bayinya Ali ar-Radhi'. MaksudHusain adalah ingin mencium dan memeluk sebagai pertemuan terakhirnya.Sambil memegang bayi yang tak berdosa ini, Husain terus berteriak:
Apakah masih ada orang bertauhid yang masih takut kepada Allah. Apakah masih ada orang yang mau
menolong kami. Apakah masih ada orang yang mau membela keluarga Rasulullah.
Tengah Husain memeluk dan ingin mengecup anak yang suci ini, tiba-tibaHarmalah bin Kahil melesatkan anak panahnya ke arah leher Aliar-Radhi'. Demi Allah, anak panah itu menembus lehemya.
Pekikan suara Ali ar-Radhi' sangat menyayat hati. Husainmenggeleng-gelengkan kepalanya seperti tak percaya betapa kejamnyamanusia-manusia durjana itu.
Kini Husain benar-benarsendirian. Seluruh keluarga dan sahabatnya gugur syahid satu persatu dihadapannya. Dia berdiri sendirian di kemahnya yang semakin kosong. labergumam menyebut-nyebut kebesaran Asma' Allah. Sekali- sekali Husainmelihat kemah putri-putrinya, kemudian ia menatap kembali lautan musuhyang tengah menanti untuk menyergapnya. Akhimya Husein melangkahkankakinya mendatangi kemah wanita untuk melihat putri-putri Fatimahaz-Zahra' as. Suara Husain kini tidak lagi lantang. Air matanya sudahterkuras habis. Dadanya sesak menahan napas panjang. Kerongkongannyakering dan panas. Dengan suaranya yang parau dan terbata- bata, diamemanggil satu persatu putri-putri Fatimah az-Zahra':
"Assalamu alaiki ya Sakinah! Terimalah salamku wahai Sakinah." "Assalamu alaiki ya Fatimah! Terimalah salamku wahai Fatimah:' "Assalamu Alaiki ya Zainab! Terimalah salamku wahai Zainab." " AssalamuAlaiki ya Ummu Kalthum! Terimalah salamku wahai Ummu Kalthum."
Sakinah yang kecil memeluk erat tubuh ayahnya yang kini kesendirian itu.
"Ya abatah. Ayah! Apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan pergimeninggalkan kami? Apakah ini pertanda perpisahanmu dengan kami?"Husain merangkul putrinya yang mungil ini sambil berbisik:
"Wahai putriku Sakinah! Apakah mungkin maut tidak menjemput orang yangtidak ada pembela dan bersendirian ini. Bersabarlah putriku! Usaplahair matamu. Bersabarlah, kau akan lebih banyak lagi menangis setelahkematianku. Tolong jangan kau bakar hati ini sebelum ruhku meninggalkanbadan ini. Kelak setelah aku gugur, menangislah putriku danmenangislah!" Husein memeluk satu persatu putri-putrinya yang tidakberdosa. Juga adik-adik wanitanya yang bersamanya di Karbala, Zainabdan Ummu Kaltsum. Kemudian dia datang memeluk Ali Zainal Abidin yangsedang berbaring lantaran sakit keras. Mas'udi dalam kitabnya Ithbatal-Washiyyah meriwayatkan, Husain kemudian berwasiat kepada putranyayang sedang sakit ini al-Ism al-A'zam dan peninggalan-peninggalan warispara Nabi. Kemudian Husain juga menyampaikan bahwa ia telah menitipkanilmu-ilmu, kitab-kitab, mushaf-mushaf dan senjata warisan kepada UmmuSalamah r.a.
Usai pamit dengan keluarganya tercinta, Husainkemudian menunggang kudanya yang membawanya berhadapan denganmusuh-musuhnya yang berjumlah lebih dari tiga puluh ribu serdadu.Husain masih berupaya untuk menyadarkan mereka dan menyelamatkan merekadari kesesatan. Husain masih tetap ingin meyempumakan hujjahnya kepadaorang- orang yang sepertinya sudah ditutupkan oleh Allah hatinya. Tapihati mereka tak bergeming.
Tiba-tiba Umar bin Sa' ad berteriak:
"Celaka kalian! Tahukah kalian dengan siapa kalian berperang? Inilahputra singa orang-orang Arab. Inilah putra Ali bin Abi Thalib. Serangdia dari berbagai sisi."
Perintah Umar bin Sa' ad kemudian diikuti dengan lemparan empat ribu anak panah yang dilesatkan untuk menembak Husain.
Dengan gagahnya Husain tetap berdiri kokoh, walaupun sebagian anakpanah mengenai badannya yang mulia. "Kalian mengancamku dengan maut;kalian menakut-nakuti aku dengan anak panah. Demi Allah mati adalahlebih mulia ketimbang harus tunduk pada kezaliman. Syahid di jalanAllah lebih mulia ketimbang tunduk pada kehinaan. Husain berkata:
Mati lebih utama daripada melakukan keaiban dan lebih utama daripadamasuk ke dalam api neraka akulah Husain putra Ali tidak pemah mundurdalam membela kebenaran. Kukan pertahankan keluarga ayahku. Kukanteruskan berjalan di atas agama sang Nabi.
Peperangan yang takseimbang antara Husain dengan pasukan Umar bin Sa' ad sudah takterelakkan lagi. Tidak sedikit dari kalangan pasukan Ibnu Sa' ad yangtewas di tangan Husain.
Dalam keadaan letih dan haus yang amatsangat, Husain kemudian duduk ingin sejenak beristirahat. Riwayatberkata, tiba-tiba Abul Hatuf membidikkan panahnya yang kemudian jatuhpersis mengenai dahinya Husain. Dengan tangannya yang mulai lemah,Husain berupaya mencabut anak panah itu perlahan-lahan. Dahi Husainyang sering digunakannya untuk bersimpuh sujud di hadapan al- Khaliq,kini menyemburkan darah suci dan segar di padang pasir Karbala. WajahHusain berubah merah. Janggutnya yang putih kemilau kini bermandikandarahnya yang segar. Husain berkata:
Ya Allah! Engkau saksikan sendiri apa yang dilakukan oleh hamba-hambaMu yang durhaka ini terhadapku.
Ya Allah, hancurkan mereka, habisi mereka, dan jangan Kau sisakansatupun dari mereka di atas muka bumi ini, dan jangan juga Kau ampunimereka.
Husain kemudian berdiri lagi meneruskan perlawanannyasampai kemudian dia merasa keletihan lagi. Sejenak ia beristirahat,tiba-tiba sebuah batu besar dilemparkan ke arah dahinya dan persismengenai lukanya. Darahnya yang suci kini lebih banyak mengalirmembasahi seluruh tubuhnya. Husain meringis kesakitan. Luka-luka yangmengenai tubuhnya membuatnya tak berdaya. Imam Husain kemudianmengangkat tangannya untuk mengambil ujung bajunya guna mengusap darahyang mengalir di dahinya. Tiba-tiba sebatang anak panah beracun yangbermata tiga dibidikkan persis ke arah dadanya. Dada Husain luka.Jantung Husain robek. Anak panah tembus sampai ke belakang Husain.Husain menundukkan kepalanya sambil memegahg-megang dadanya yangmemancurkan darah segar Nabi yang mulia. Dengan suara yangterbatah-batah Husain berdo' a:
Dengan Asma' Allah
dengan bantuan Allah
dan di atas agama Rasulullah
Ilahi, Engkau Maha tahu bahwa mereka telah membunuh satu-satunya putra Nabi Mu yang masih ada di atas muka bumi ini.
Husain kemudian mencabut anak panah itu dari belakangnya, yang kemudianmemuntahkan darah segar nan suci. Perawi berkata, Husain kemudianmenampung darah-darahnya itu dengan kedua tangannya, lalu dilemparkanke arah langit. Demi Allah! Tidak setetespun dari darah itu kemudiankembali ke bumi.
Kemudian Husain menampung lagi darah yangmasih mengalir deras dengan kedua tangannya. Kemudian ia usap-usapkanke wajahnya, janggutnya, dan tubuhnya sambil berkata:
Sepertiinilah aku akan bertemu dengan datukku Rasulullah s.a.w dalam keadaanbadan ini bersimbah darah Kelak akan kukatakan kepadanya bahwa yangmembunuhku adalah Fulan bin Fulan. Melihat Husain tergeletak lemah,Umar bin Sa' ad berteriak, "Turun kalian dan penggal lehemya..." Makaturunlah sebagian makhluk-makhluk durjana itu untuk menghina Husain.Sebagian memukuli amamah atau sorban Husain sampai kepalanya luka;sebagian menusukkan pedangnya ke perut Husain; sebagian yang lainmenyabetkan pedangnya ke punggung Husain. Sedemikian buruk perlakuanmereka kepada Husain yang sudah jatuh lemah itu, sampai Imam Baqir as.berkata, "Hatta kepada anjingpun, mereka dilarang memperlakukannyaseumpama itu. Husain telah ditusuk dengan pedang, dipukul dengantombak, dilempar dengan batu, dipukul dengan kayu dan tongkat; bahkandinjak- injak dengan kuda..."
Tidak sekedar itu. Jiwa iblisUmar bin Sa' ad masih belum puas. Dendam Ibnu Ziyad terhadap Husainmasih belum tuntas. Meskipun Husain kini telah tergeletak layubersimbah darah, dalam keadaan badan nyaris tidak lagi bemyawa, merekakobarkan api permusuhan sedalam-dalamnya terhadap Husain.
Umarbin Sa’ad memerintahkan orangnya untuk turun menghabisi Husain. Shimirdan Sinan bin Anas turun dari kudanya. Melihat mereka Husain masihterengah-engah meminta air. "Sungguh, aku haus, aku Husain haus!" KataHusain. Syimir kemudian menendang dengan sepatunya yang keras. Dengansuaranya yang keras dia berkata, "Wahai putra Abu Turab! Bukankahengkau berkata bahwa ayahmu akan memberi air di telaga al-kautsarkepada orang yang dicintainya. Mintalah dari ayahmu...!" Syimirkemudian duduk di dada Husain. Dia pegang janggut Husain yang sudahbermandikan darah. Dengan senyum Husain berkata kepada Syimir, "Apakahengkau tidak kenal aku dan akan membunuhku?" Syimir menjawab, "Ya, Akumengenalmu dengan baik. Ibumu Fatimah az-Zahra'; ayahmu Alial-Murtadha, dan datukmu Muhammad al-Mustafa, pembelamu adalah AllahTa'ala. Aku tidak perduli semua itu..."
Dalam sebuah riwayat,Syimir berusaha memenggal leher Husain dari arah depan. Namun diagagal. Kemudian dia membalik Husain dengan sangat kasar dan menebaskanpedangnya dari arah belakang Husain..." setiap kali urat leher Husainterpotong, Husain berteriak, "Wa abatah, wa ummah, wa jaddah, wa'aliyyah (duhai ayah, duhai ibu az- Zahra', duhai datukku Mustafa danduha ayahku Ali..."
Riwayat berikutnya kemudian berkata,
"Mereka kemudian turun beramai-ramai dari kudanya untuk merampas setiapbarang yang ada di tubuh Husain yang mulia. Bahar bin Ka'ab melucuticelana Husain; Akhnas bin Marthad menarik sorban. Husain; Aswad binKhalid merampas sandal Husain; Umar bin Sa' ad mengambil baju perangHusain; Jami' bin al-Khalq merebut pedang Husain. Yang lebih tragislagi, Bajdal bin Sulaim mengambil cincin Husain. Kata perawi, semulaBajdal mencoba keras menarik-narik cincin Husain. Tapi dia tidakberhasil. Kemudian dia mengambil jalan pintas. Dihunuskan pedangnya kearah jari-jari Husain, dan … karena sepotong cincin, ia potong jariHusain.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
Keikhlasan Seorang Budak
Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang sangat terkenalkebaikannya. Semua orang menaruh hormat kepadanya, kepadanya, karena iatermasuk orang yang berilmu luas, di samping kedudukannya sebagai cucuRasulullah s.a.w. Kedermawanannya pun dikenal masyarakat. Ia lebihmementingkan perintah agama daripada keperluannya sendiri. Imam Husainbin Ali mencontoh sifat-sifat mulia itu dari Rasulullah s.a.w., ibunya(Sayyidah Fatimah Az Zahra a.s.), dan ayahandanya (Imam Ali bin AbiThalib as).
Husain bin Ali as. mempunyai sebidang kebun yangcukup luas. Kebun itu diurus dan dijaga oleh seorang budak yang bernamaShafi. Shafi sendiri sangat memperhatikan kebun tuannya itu. Ia merasawajib berbuat demikian karena ia memandang tugasnya itu sebagai suatuamanat. Ia adalah seorang yang jujur, lugu dan berbudi luhur. Setiaphari ia tak lupa menyirami tanaman-tanaman yang ada di kebunnya, danmengawasinya agar tidak dimasuki pencuri. Di dalam menjalankan tugasnyaitu, Shafi ditemani oleh seekor anjing yang setia. Anjing itu jugamilik tuannya.
Suatu hari, Al Husain datang ke kebunnya. Iatidak memanggil Shafi, sehingga Shafi tetap tidak tahu bahwa tuannyatelah datang. Al Husain mengawasi kebunnya. Ia melihat teman-teman daridekat, memeriksa dan memegangnya. Di tengah kesibukannya itu, ImamHusain bin Ali a.s. melihat Shafi sedang duduk beristirahat di bawahsebuah pohon, dan si anjing duduk pula berhadapan dengan Shafi.Kemudian dilihat oleh Husain, bahwa Shafi mengeluarkan sepotong rotidari kantung miliknya. Roti itu dibaginya menjadi dua bagian, separuhuntuk dia dan separuh lagi diberikan kepada anjing yang duduk dihadapannya itu. Dan mulailah roti itu dimakan.
Imam Husainmengamati Shafi yang sedang menikmati sarapan paginya. Setelah selesai,Shafi mengangkat kedua tangannya, menengadah danberdo’a:”Alhamdulillah. Ya Allah, ampunilah diriku dan diri tuanku.Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepadanya sebagaimana Engkau telahmemberkati ayah dan ibunya.”
Imam Husain memperhatikan semuaperbuatan budaknya. Ia pun mendengar doa Shafi. Ia merasa terharu.Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tetap bersembunyi.
Lama-kelamaan, Husain tak tahan lagi bersembunyi. Ia memangil budaknya:”Assalamu’alaikum hai Shafi…”
Shafi sangat terkejut mendengar suara orang memanggil. Ia kenal betul,bahwa itu adalah suara tuannya. Dengan bergegas dan terbata-bata, iamenjawab salam tuannya: “Wa ‘alaikum salam …”
Sampailah Shafidi hadapan tuannya. Ia merasa takut dan kecewa karena ia tidak mengertikedatangan tuannya. Ia menyampaikan permintaan maaf dengan kepalamenunduk. “Maafkan saya Tuan, karena saya telah lalai, sehingga sayatidak menyambutnya dengan sambutan yang seharusnya.”
“Takmengapa hai Shafi. Sebenarnya akulah yang bersalah, sebab aku telahmasuk ke kebunmu tanpa izin terlebih dahulu, “jawab Husain sambilmenepuk punggung Shafi.
“Mengapa Tuan berkata demikian. Bukankah kebun ini milik Tuan?” tanya Shafi sambil tetap merasa malu.
Husain menjawab: “Lupakan itu, hai Shafi. Sesungguhnya aku tadi telahlama memperhatikanmu. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, mengapatadi engkau berikan separuh roti sarapan pagimu kepada anjing itu?”
“Ah … Sesungguhnya aku merasa malu kepada anjing ini. Ketika aku hendakmakan, anjing itu memandangiku terus menerus. Anjing ini adalah milikTuan. Ia telah ikut menjaga kebun ini dari gangguan orang, sedangkanaku hanya mengerjakannya. Oleh sebab itu, aku berpendapat bahwa hasilyang kuperoleh dari Tuan selayaknyalah dibagi dengan anjing ini, sebabia pun berhak memperoleh itu,” jawab Shafi.
Husain bin Ali as.memandang wajah budaknya. Ia begitu kagum mendengar jawaban Shafi yangmengharukan itu. Tanpa disadari, air mata menetes dari mata Husain. Iatak kuasa lagi menahan keharuan dan kekagumannya, sehingga ia kemudianberkata: “Wahai Shafi, mulai saat ini engkau aku merdekakan. Danambillah wang dua ribu dinar ini sebagai hadiah dariku.”
Mendengar ucapan Tuannya, kini Shafilah yang merasa tidak percaya. Iamemandang Tuannya dengan penuh keharuan. Hatinya melonjak gembira,sekaligus terharu. Ia memandang wang dan Tuannya secara bergantian.Bagaimana mungkin, pikir Shafi, ia dibebaskan begitu mudah, dan diberiwang begitu banyak. Ia beranikan dirinya berkata kepada Tuannya: “TapiTuan…”
“Sudahlah,” jawab Husain memotong perkataan Shafi. “Ambillah uang itu dan engkau merdeka!”
Itulah kisah Shafi, budak Husain bin Ali a.s yang dimerdekakan karenakejujuran dan keikhlasannya. Ia telah memberikan rotinya dengan ikhlaskepada anjingnya, hingga Tuannya merasa bangga dan terharu. Dan AllahSWT pun kemudian memberikan karunia-Nya kepada Shafi, dengan memberinyabalasan yang sangat besar kepadanya
Gelar : Sayyidu Syuhada', As-Syahid bi Karbala
Julukan : Aba Abdillah
Ayah : Ali bin Abi Thalib.
lbu : Fatimah Az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis 3 Sya'ban 3 H.
Hari/Tg] Wafat : Jum 'at 10 Muharram 61 H.
Umur : 58 Tahun
Sebab Kematian : Dibantai di Padang Karbala
Makam : Padang Karbala
Jumlah anak : 6 orang; 4 laki-laki dan 2 perempuan
Anak laki-laki : Ali Akbar, Ali al-Autsat, Ali al-Asghar, dan Ja’far
Anak Perempuan ; Sakinah dan Fathimah
Riwayat Hidup
Sabda Rasulullah saww: "Wahai putraku al-Husein, dagingmu adalahdagingku dan darahmu adalah darahku, engkau adalah seorang pemimpinputra seorang pemimpin dan saudara dari seorang pemimpin, engkau adalahseorang pemimpin spiritual, putra seorang pemimpin spiritual dansaudara dari pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang berasal dariRasul, putra Imam yang berasal dari Rasul dan Saudara dari Imam yangberasal dari Rasul, engkau adalah ayah dari semua Imam, yang ke semuaadalah al- Qo'im (Imam Mahdi)." (14 Manusia Suci Hal 92)
Salman al-Farisi r.a. berkata:"Aku menemui Rasulullah s.a.w, dankulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi menciumpipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: "Engkau seorangjunjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan;engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam;engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilanhujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi."(al-Ganduzi, Yanabi’ al Mawaddah)
Berkata Jabir bin Samurrah:"Saya ikut bersama ayah menemui Nabi s.a.w, lalu saya mendengar beliauhersabda: "Persoalan lima ini belum akan pantas sebelum berjalanpemerintahan 12 (dua belas) khalifah di tengah-tengah mereka". Kemudianbeliau mengatakan sesuatu yang tidak pernah saya dengar. Karena itu,beberapa waktu kemudian saya bertanya kepada ayah: "Apa yang beliaukatakan?". Nabi mengatakan: "Semua khalifah itu berasal dari kalanganQuraish". Jawab ayahku. (Shahih Muslim Jilid 3, Bukhari, Al-Tirmizi danAbu Daud)
Di tengah kebahagiaan dan kerukunan keluargaFathimah Az-Zahra lahirlah seorang bayi yang akan memperjuangkankelanjutan misi Rasulullah s.a.w. Bayi itu tidak lain adalah Husein binAli bin Abi Thalib, yang dilahirkan pada suatu malam di bulan Sya'ban.
Rasululullah s.a.w bertanya pada Imam Ali bin Abi Thalib: "Engkauberinama siapa anakku ini?" Saya tidak berani mendahuluimu wahaiRasulullah". Jawab Ali. Akhirnya Rasululullah s.a.w mendapat wahyu agarmenamainya "Husein". Kemudian di hari ketujuh, Rasulullah bergegas kerumah Fatimah Az-Zahra dan menyembelih domba sebagai aqiqahnya. Laludicukurnya rambut al-Husein dan Rasul bersedekah dengan perak seberatrambutnya yang kemudian mengkhatannya sebagaimana upacara yangdilakukan untuk Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Sebagaimana ImamHasan, beliau juga mendapat didikan langsung dari Rasulullah s.a.w. Dansetelah Rasulullah meninggal, beliau dididik oleh ayahnya. Hinggaakhirnya Imam Ali terbunuh dan Imam Hasan yang menjadi pimpinan saatitu. Namun Imam Hasan pun syahid dalam mempertahankan Islam dan kiniImam Husein yang menjadi Imam atas perintah Allah dan Rasul-Nya sertawasiat dari saudaranya. Imam Husein hidup dalam keadaan yang palingsulit. Itu semua merupakan akibat adanya penekanan dan penganiayaanserta banyaknya kejahatan dan kedurjanaan yang dilakukan Muawiyah.Bahkan yang lebih buruk lagi, ia menyerahkan ke khalifahan kaummuslimin kepada anaknya Yazid, yang dikenal sebagai pemabuk, penzina,yang tidak pernah mendapat didikan Islam, serta seorang pemimpin yangsetiap harinya hanya bermain dan berteman dengan kera-kerakesayangannya.
Hukum-hukum Allah tidak dilakukan,sunnah-sunnah Rasululullah ditinggalkan dan Islam yang tersebar bukanlagi Islamnya Muhammad s.a.w, melainkan Islamnya Muawiyah serta Yazidyang kenal dengan kerusakan dan kedurjanaan. Imam Husein merupakantokoh yang paling ditakuti oleh Yazid. Hampir setiap kerusakan yangdilakukannya ditentang oleh Imam Husein dan beliau merupakan seorangtokoh yang menolak untuk berbaiat kepadanya. Kemudian Yazid segeramenulis surat kepada gubenurnya al-Walid bin Utbah, danmemerintahkannya agar meminta baiat dari penduduk Madinah secara umumdan dari al-Husein secara khusus dengan cara apapun.
Melihatitu semua, akhirnya Imam Husein berinisiatif untuk meninggalkanMadinah. Namun sebelum meninggalkan Madinah beliau terlebih dahuluberjalan menuju maqam datuknya Rasulullah s.a.w, serta shalatdidekatnya dan berdoa: "Ya Allah ini adalah kuburan nabi-Mu dan akuadalah anak dari putri nabi-Mu ini. Kini telah datang kepadakupersoalan yang sudah aku ketahui sebelumnya. Ya Allah! Sesungguhnya akumenyukai yang maruf dan mengingkari yang mungkar, dan aku memohonkepada-Mu, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia, melalui haqorang yang ada dalam kuburan ini, agar jangan Engkau pilihkan sesuatuuntukku, kecuali yang Engkau dan Rasul-Mu meridhainya" ( Abdul RozaqMakram, Maqtal al-Hasan hal 147).
Setelah menyerahkan segalaurusannya kepada Allah, beliau segera mengumpulkan seluruh Ahlul-Baitdan pengikut-pengikutnya yang setia, lalu menjelaskan tujuan perjalananbeliau, yakni Mekkah.
Mungkin kita bertanya-tanya, apasebenarnya motivasi gerakan revolusioner yang dilakukan Imam Huseinhingga beliau harus keluar dari Madinah. Imam Husein sendiri yangmenjelaskan alasannya kepada Muhammad bin Hanafiah dalam surat yangditulisnya: "Sesungguhnya aku melakukan perlawanan bukan dengan maksudberbuat jahat, sewenang- wenang, melakukan kerusakan atau kezaliman.Tetapi semuanya ini aku lakukan semata-mata demi kemaslahatan umatdatukku Muhammad s.a.w. Aku bermaksud melaksanakan amar ma’ruf nahimungkar, dan mengikuti jalan yang telah dirintis oleh datukku dan jugaayahku Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah barangsiapa yang menerimakudengan haq, maka Allah lebih berhak atas yang haq. Dan barang siapayang menentang apa yang telah kuputuskan ini, maka aku akan tetapbersabar hingga Allah memutuskan antara aku dengan mereka tentang yanghaq dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan."
Setelahmelakukan perjalanan panjang, akhirnya rombongan Imam Husein sampai dikota Makkah, yaitu suatu kota yang dilindungi Allah SWT yang dalamIslam merupakan tempat yang di dalamnya perlindungan dan keamanandijamin. Peristiwa ini terjadi di akhir bulan Rajab 60 Hijriah.
Selama empat bulan di Makkah Imam banyak berdakwah dan membangkitkan semangat Islam dari penduduk Makkah.
Dan ketika tiba musim haji, Imam segera melaksanakan ibadah haji danberkhutbah di depan khalayak ramai dengan khutbah singkat yangmengatakan bahwa beliau akan ke lraq menuju kota Kufah.
Selainkarena keamanan Imam Husein sudah terancam, ribuan surat yang datangnyadari penduduk kota Kufah juga menjadi pendorong keberangkatan ImamHusein ke kota itu. Dan sehari setelah khutbahnya itu, Imam Huseinberangkat bersama keluarga dan para pengikutnya yang setia, gunamemenuhi panggilan tersebut.
Ketika dalam perjalanan, ternyatakeadaan kota Kufah telah berubah. Yazid mengirimkan lbnu Ziyad gunamengantisipasi keadaan. Wakil Imam Husein (Muslim bin Aqil), diseretdan dipenggal kepalanya. Orang-orang yang setia segera dibunuhnya.Penduduk Kufah pun berubah menjadi ketakutan, tak ubahnya laksana tikusyang melihat kucing. (Abdul Karim AL-Gazwini, al-Wasaiq al-Rasmiah LiTsaurah al-Husein Hal 36).
Sekitar tujuh puluh kilometer dariKufah di suatu tempat yang bernama "Karbala", Imam Husein besertarombongan yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang; 40 (empat puluh)laki-laki dan sisanya kaum wanita; dan itu pun terdiri dari keluargabani Hasyim, baik anak-anak, saudara, terdekat dan saudara sepupu;telah dikepung oleh pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30 (tigapuluh) ribu orang.
Musuh yang tidak berperikemanusiaan itu,melarang Imam dan rombongannya untuk meminum dari sungai Efrat.Padahal, anjing, babi dan binatang lainnya bisa berendam di sungai itusepuas-puasnya, sementara keluarga suci Rasulullah dilarang mengambilair walaupun seteguk.
Penderitaan demi penderitaan, jeritandemi jeritan, pekikan suci dari anak-anak yang tak berdosa menambahsedihnya peristiwa itu. Imam Husein yang digambarkan oleh Rasul sebagaipemuda penghulu surga, yang digambarkan sebagai Imam di saat duduk danberdiri, harus menerima perlakuan keji dari manusia yang tidak mengenalbatas budi.
Pada tanggal 10 (sepuluh) Muharram 61 Hijriah, 680Masehi), pasukan Imam Husein yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orangtelah berhadapan dengan pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah30.000 (tiga puluh ribu) orang. Seorang demi seorang dari pengikutal-Husein mati terbunuh. Tak luput keluarganya juga mati dibantai.Tubuh mereka dipisah-pisah dan diinjak-injak dengan kudanya. Hinggaketika tidak ada seorangpun yang akan membelanya beliau mengangkatanaknya yang bernama Ali al-Asghar, seorang bayi yang masih menyususambil menanyakan apa dosa bayi itu hingga harus dibiarkan kehausan.Belum lagi terjawab pertanyaannya sebuah panah telah menancap di dadabayi tersebut dan ketika itu pula bayi yang masih mungil itu harusmengakhiri riwayatnya didekapan ayahnya, Al-Husein.
Kinitinggallah Al-Husein seorang diri, membela misi suci seorang nabi, demiprojek Allah apapun boleh terjadi, asal agama Allah mampu tegakberdiri, badan pun boleh mati. Perjuangan Al-Husein telah mencapaipuncaknya, tubuhnya yang suci telah dilumuri darah, rasa haus pun telahmencekiknya. Tubuh yang pernah dikucup dan digendong Rasulullah s.a.wkini telah rebah di atas padang Karbala. Lalu datanglah Syimr, lelakiyang bertempang menakutkan, menaiki dada al-Husein lalu memisahkahkepala beliau serta melepas anggota tubuhnya satu demi satu.
Setelah kepergian Imam Husein, pasukan musuh menjarah barang-barangmilik Imam dan pengikutnya yang telah tiada. Kebiadaban mereka tidakcukup sampai di sini, mereka lalu menyerang kemah wanita danmembakarnya serta mempermalukan wanita keluarga Rasulullah. Rombonganyang hanya terdiri dan kaum wanita itu, kemudian dijadikan sebagaitawanan perang yang dipertontonkan dan satu kota ke kota lain.
Rasulullah yang mendirikan negara Islam dan membebaskan mereka darikebodohan. Namun keluarga Umayah yang tidak tahu membalas budi telahmemperlakukan keluarga Rasulullah semena-mena. Beginikah cara umatmumembalas kebaikanmu wahai Rasulullah s.a.w? Benarlah sabda Rasulullahyang berbunyi: "Wahai Asma! Dia (al-Husein) kelak akan dibunuh olehsekelompok pembangkang sesudahku, yang syafaatku tidak akan sampaikepada mereka."
Pembicaraan tentang Imam Husain adalah pembicaraan yang dipenuhi dengan kepahlawanan dan pengorbanan.
Maqtal Al-Husain bin 'Ali bin Abi Thalib
Shallallahu ‘alaika ya Aba ‘Abdillah
Shallallahu 'alaika ya Mazlum bi Karbala
Shallallahu 'alaika ya Syahid bi Karbala
Salam sejahtera bagimu ya Aba ‘Abdillah al-Husain bin 'Ali (as.)
Salam sejahtera bagimu wahai putra Rasulullah (saw.)
Salam sejahtera bagimu wahai putra Fatimah az-Zahra. (as.)
Pertama-tama marilah kita dengar beberapa sabda Nabi Muhammad s.a.w.tentang Husain "Husainun minni wa ana min Husaini. Ahabballah manahabba Husaina. Husain sibthun minal asbath. "
(Husain adalahbagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri Husain. SemogaAllah mencintai orang yang mencintai Husain, dan Husain adalah cucuistimewa dari cucu-cucuku".
Hadis lain, "Innal Hasana wal Husain Sayyida syababi Ahlil Jannah", Sungguh Hasan dan Husain adalah dua pemuka pemuda syurga.
Ibnu Hajar mencatat dalam kitabnya at-Tahzib riwayat Ummu Salamah,:"Suatu hari Hasan dan Husain sedang bermain di rumahku, di hadapandatuknya Rasulullah s.a.w. Tidak lama berselang, malaikat Jibrildatang. Dia berkata sambil menunjuk ke arah Husain, "ya Muhammad, kelakummatmu akan membunuh putramu ini. Mendengar itu Nabi kemudianmenangis. Dipanggilnya Husain dan dipeluknya erat-erat ke dadanya.Kemudian Nabi memanggilku, kata Ummu Salamah, dan memberiku sebongkahtanah. Setelah mencium bongkahan tanah itu, Nabi berkata, "ya UmmuSalamah, di tanah ini ada bau Karbun wa Bala'. Kelak apabila ia berubahmenjadi darah, ketahuilah bahwa di saat itu putraku ini syahidbermandikan darah.'
Lima puluh tahun setelah wafat bagindaRasulullah saw, tepatnya tanggal10 Muharram tahun 61 Hijriah, tragediKarbala yang diucapkan oleh Nabi tersebut menjadi kenyataan. la bermuladari keengganan Husain as. untuk memberikan bai’at kepada Yazid binMu’awiyah sepeninggal ayahnya.
Kepada al-Walid, gubernurMadinah, Imam Husain berkata, “Ayyuhal Amir! Kami adalah Keluarga Nabi,Tambang Risalah, Tempat Kunjungan para malaikat, dan pusat rahmatIllahi. Karena kamilah maka Allah membuka dan mengakhiri segalasesuatu. Sementara Yazid adalah seorang yang fasik, peminum arak,pembunuh nyawa yang tak berdosa dan terang-terangan melanggar perintahAllah. Orang seumpamaku takkan mungkin akan memberinya bai'at..."
Ketika Husain didesak oleh orang-orang Mu.awiyah, terutama oleh Marwanbin Hakam, seorang yang dikatakan oleh Nabi sebagai al-la’in ibnulla’in, dengan nada yang tinggi Husain berkata, "Inna lillahi wa innailaihi raji’un... Apabila bai’at ini diberikan kepada Yazid, ituberarti pengkhianatan kepada agama Islam. Bagaimana mungkin ummat iniakan dibiarkan dipimpin oleh orang seperti Yazid." Husain kemudianberkata: 'Wahai musuh Allah! nyahlah engkau dariku. Kami adalahkeluarga Rasulullah. Kebenaran ada pada kami. Dan al-haq pasti keluardari lisan kami. Ku dengar sendiri Nabi bersabda, "Hak Khilafah adalahharam bagi keluarga Abu Sufyan dan bagi at- Thulaqa. Ibnul Thalaqa.,(yakni anak keturunan para tawanan Makkah kalian lihat Mu'awiyah beradadi atas mimbarku, maka tikamlah perutnya. Demi Allah penduduk kotaMadinah telah melihat Mu'awiyah duduk di atas minbar datukku, danmereka tidak melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Nabinya.Itulah kenapa akhimya mereka ditimpakan oleh Allah bencana anaknyaYazid, Zadahullah fin nari 'adzaban, (semoga Allah lebih menimpakanadzab yang pedih kepadanya di api neraka).
Suasana mencekam dikota Madinatur Rasul karena ancaman Yazid atas nyawa Husain menyebabkanHusain berpikir untuk pergi ke kota Mekah. Sebelum pergi, Husain as.berkunjung ke pusara datuknya di tengah malam gulita, sambil berkata:
“Assalamu 'alaika ya Rasulallah! Anal Husain ibnu Fathimah. Ana Farkhuka wabnu Farkhika..”.
Salam sejahtera kepadamu wahai Rasulallah Aku adalah Husain putranyaFatimah. Aku adalah anakmu dan anak dari putrimu. Aku adalah cucumuyang kau tinggalkan kepada ummatmu. Saksikanlah wahai Nabi Allah bahwamereka telah menghinaku dan mengabaikan hak-hakku serta tidakmemeliharaku. Inilah keluhanku kepadamu hingga kelak aku berjumpadenganmu..."
Kemudian Husain berdiri shalat, ruku' dan sujudsepanjang malarnnya di samping pusara kekasihnya Rasulullah s.a.w.Selesai shalat Husain berdo'a:
Allahumma! Inna hadza qabrunabiyyika Muhammad... YaAllah! Ini adalah pusara Nabi-Mu Muhammad,sementara aku adalah putra dari putrinya Muhammad. Engkau Maha tahuderita yang apa kini datang kepadaku. Allahumma ya Allah! Sungguh akucinta pada yang ma'ruf dan benci pada yang munkar. Aku bermohonkepada-Mu ya Dzal Jalali wal Ikram, demi pusara ini dan demipenghuninya, agar Kau pilihkan untukku sesuatu yang di dalarnnya Kauredha padaku.""
Menjelang subuh, Husain kemudian meletakkankepalanya ke pusara datuknya. Di sana kemudian ia sejenak tertidur.Dalam tidur itu ia melihat datuknya datang dengan serombongan malaikatkepadanya. Dipeluknya Husain erat-erat ke dadanya. Diciumnya antarakedua matanya. Kemudian Nabi berkata, "Wahai putraku Husain! Sepertinyasebentar lagi kau akan terbunuh dan tersembelih di sebuah tempat danbumi karbun wa bala'. Di sana kau dikepung oleh sekumpulan orang dariummatku, dalam keadaan kau haus dan tidak diberi air minum. Tapi merekamasih mengharapkan syafaatku di hari kiamat. Demi Allah, kelak akutidak akan memberi mereka syafaat di hari kiamat..."
Setelahkunjungan terakhir ke pusara Rasulullah s.a.w., Husain kemudianberangkat ke kota Mekah bersama seluruh anggota keluarganya. SyaikhMufid meriwayatkan, di saat Husain meninggalkan kota Mekah, Husainmembaca ayat yang ada dalam surah al-Qashas (28) ayat 21, "fa kharajaminha khaifan yataraqqabu, qala rabbi najjini minal qaumidzdzalimin..." (Maka (Musa) keluar dari (kota) itu dengan ketakutanseraya berhati hati. Dia berkata, "ya Tuhanku, selamatkan aku dari kaumyang zalim.)
Husain tiba di kota Mekah pada tangga13 Sya'bantahun 60 H. Di sana beliau dan keluarganya menetap sepanjang bulanSya'ban, Ramadhan, Syawal dan Dzulkaidah.
Sepanjang empatbulan itu Husain berjumpa dengan sebagian dari sahabat-sahabat Rasulyang masih hidup tak terkecuali Ibnu 'Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair dansebagainya. Kepada mereka Husain sampaikan niatnya untuk tidakmemberikan bai'at sedikitpun kepada Yazid, meskipun untuk itu ia akanberhadapan dengan kekerasan. Ketika sebagian dari mereka menasehatiHusain untuk berdamai saja dengan Yazid, Husain malah menjawab, "Apakahaku akan berikan bai'at kepada Yazid dan berdamai dengannya, sementaraNabi s.a.w. telah berkata sesuatu yang jelas tentangnya dan tentangayahnya."
Ibnu Umar mendesak Husain agar pulang saja ke kotaMadinah untuk menghindari pertumpahan darah. 'tidak perlu Husainmemberikan bai'at, tapi juga jangan menentang Yazid. Sebab wajahsemulia Husain tidak layak ditumpahkan dan mandi bersimbahkan darah dihadapan Yazid al-mal'un. Tapi Husain menjawab ajakan Ibnu Umar dengankata-katanya yang terkenal: . "Ya Ibnu Umar! Mereka tidak akanmembiarkan aku begitu saja. Mereka akan tetap memaksaku membai'atnyaatau membunuhku. Dengarkan baik-baik wahai hamba Allah! Di antara sebabmengapa dunia ini sangat hina di sisi Allah adalah sebuah tragedidimana kepala Nabi Yahya bin Zakaria dipenggal oleh kaurnnya dankemudian ia dijadikan sebagai hadiah yang diberikan kepada pemimpinmereka yang zalim. Padahal kepala itu berbicara kepada mereka danmenyempurnakan hujahnya di hadapan mereka semua. Wahai hamba Allah!Jangan engkau lari dari membelaku. Ingatlah aku di saat-saat shalatmu.Demi Allah yang telah membangkitkan datukku Muhammad sebagai Nabi yangbashiran wa nadzira, seandainya ayahmu Umar bin Khattab hidup di zamanini, niscaya dia akan membelaku seperti dia membela datukku. Wahaiputra Umar! Apabila engkau tidak bersedia keluar bersamaku dan beratbagimu ikut bersamaku, maka itu kumaafkan. Namun jangan lupa untukmendoakan aku setelah shalat-shalatmu. Jauhi mereka dan jangan kauberikan bai'at kepada mereka sampailah segala perkara menjadi jelas."
Selama Husain berada di Mekah, ratusan bahkan ribuan surat datangkepadanya dari arah Kufah, Bashrah dan sekitarnya memintanya segeradatang ke sana untuk dijadikan sebagai Imam mereka dalam menumbangkankezaliman Yazid.
“Innahu laisa 'alaina Imam. Fa aqbilla'allaha an yajma ‘ana bika ‘alal haq”, (Kami tidak punya Imam.Datanglah ke mari. Mudah-mudahan Allah akan menyatukan kami denganmu diatas jalan kebenaran)” Begitu yang mereka tulis kepada Imam Husain.
Pada tanggal delapan Dzulhijjah tahun 60 H. Husain meninggalkan kotasuci Mekah menuju Iraq. Malam sebelumnya ia sempat berjumpa dengansaudaranya Muhammad bin al-Hanafiah. Saudaranya ini mengusulkan kepadaHusain agar pergi saja ke tempat lain yang lebih amman, ke Yamanmisalnya. Namun Husain meminta waktu untuk memikirkannya. Pada pagiharinya ketika ia berjumpa kembali dengan Husain, Muhammad al-Hanafiahmenuntut janji jawaban Husain. Husain kemudian berkata, "Wahaisaudaraku! Setelah kita berpisah tadi malam, aku berjumpa dengandatukku Muhammad s.a.w. Katanya, “ya Husain ukhruj, fainnallaha qadsyaa an yaraka qatilan” (ya Husain! Keluarlah, sebab Allah telahmenghendaki melihatmu terbunuh (di jalan-Nya). "Inna lillahi wa innailaihi raji'un..." Gumam Hanafiah.
Hari kesepuluh dari bulanMuharram tahun 61 Hijriah, adalah hari yang paling menyedihkan bagikeluarga Nabi s.a.w. Betapa tidak. Di hari itu pasukan Husain yangberjumlah lebih kurang 78 orang termasuk anak-anak telah dihadang olehtak kurangdari 30,000 pasukan yang berkuda dan bersenjata lengkap untuksiap membantainya dan menawan putra-putrinya.Di sisi lain, air sungaiFurat yang terbentang panjang dan menghidupi makhluk-makhluk padangKarbala, hatta anjing sekalipun, pada hari itu diharamkan bagi putra-putri Nabi yang suci ini.
Sejak pagi Asyura Imam Husainberupaya menyadarkan mereka untuk tidak memerangi keluarga Nabi ini.Dia berusaha maksimal untuk menghentikan pertumpahan darah yang akanberakibat buruk bagi kehidupan mereka setelahnya. Sampai-sampai Husainberteriak lantang, “
“Ayyuhan nas! Dengarlah kata-kataku, danjangan kalian terburu-buru ingin memerangiku hingga aku boleh memberikalian nasehat yang mana kalian berhak untuk mendengarnya. Lihatlahsiapa diriku dan diri kalian. Sadarlah dan perhatikan baik-baikkedudukan aku di sisi kalian. Apakah kalian boleh membunuhku danmenginjak-injak keluargaku. Bukankah aku adalah putra dari putri Nabikalian, dan putra washinya,
orang pertama yang beriman kepadaNabi-Nya? Bukankah Hamzah, penghulu para syuhada adalah bapa saudaraku? Bukankah Ja'far at-Thayyar, yang memiliki dua sayap di syurga kelakadalah bapa saudara ku? Bukankah kalian pernah mendengar sabda Nabitentangku dan saudaraku Hasan bahwa dua putra ini adalah pemuka pemudasyurga?”
Kata-kata Husain tidak banyak mengusik hati merekayang telah beku. Tapi Husain terus berupaya maksimal untuk menyentuhhari nurani mereka. Sampai beliau berkata secara emosional,
"Ayyuhan Nas, ama min mughitsin yughitsu ‘anna..., apakah masih adaorang yang mau membela kami keluarga Rasul. Apakah masih ada orang yangmau menolong kami sebagai keluarga Rasul? Apakah salah kami? Apakahdosa anak-anak dan wanita kami sehingga kalian haramkan mereka dari airFurat itu?
Kata-kata Husain terakhir tiba-tiba mengusikperasaan al-Hur bin Yazid ar-Riyahi, salah seorang dari pimpinanpasukan Umar bin Sa’ad. Sejenak ia mundur dan mencari tempat yangtepat, akhirnya ia menyebat kudanya untuk bergabung bersama Husain.Al-Hur dengan suara yang penuh sesal berkata, “Wahai putra Rasulullah,apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertaubat? Kumohon maafmu yaHusain, karena telah menakut-nakuti hati para kekasih Allah danputra-putri Nabi Allah" "Na’am. Taballahu ‘alaika. Semoga Allahmenerima taubatmu ya Hur. Kata Husain, "Anta hurrun kama waladatkaummuka hurra. Khawatir sahabat-sahabat lain menyusul Hur, tiba-tibaUmar bin Sa'ad, pimpinan pasukan musuh melesatkan anak panahnya ke arahHusain sebagai tanda dimulainya perang. Sambil berteriak Umar berkata:"Saksikan di hadapan Amir bahwa aku adalah orang pertama yangmelemparkan anak panahnya kepada Husain." Dan berikutnya ribuan anakpanah dilesatkan ke arah Husain, keluarganya dan sahabat- sahabatnya.
Peperangan yang tidak seimbang pun berkobar. Sahabat Husain satu demisatu maju dan kemudian gugur, disusul pula oleh keluargnya. Orangpertama adalah putranya yang bemama Ali al-Akbar, seorang anak remajayang mempunyai wajah yang betul-betul mirip dengan wajah datuknyaRasulullah s.a.w.
Melihat putranya ini Husain terisakmenangis. Dipeluknya erat-erat putra kesayangannya ini. Sambilmengangkat janggutnya yang telah memutih, Husain berdo'a, "ya Allah,saksikanlah betapa tega dan kejamnya kaum ini. Muncul di hadapan merekaseorang yang mempunyai wajah, sifat dan kata-kata yang sangat miripdengan Rasul-Mu Muhammad. Bahkan ketika kami rindu kepada Rasul-Mu,kami akan memandangi wajah anak ini. Ya Allah, haramkan bagi merekakeberkahan perut bumi ini. Porak- porandakan mereka. Mereka telahmengundang kami dan berjanji untuk membela kami, tiba-tiba merekajugalah yang memusuhi kami dan memerangi kami."
Ali al-Akbarmaju ke medan perang dengan sangat tangkas sehingga mengingatkan orangakan keperkasaan datuknya Ali bin Abi Thalib as. Riwayat berkata,setelah lebih dari seratus orang tewas di tangannya, Ali kembali kekemah ayahnya dengan luka-luka yang cukup banyak. Dia berkata, "Yaabatah, (duhai ayahanda yang mulia), haus, haus. Rasa haus benar-benartelah mencekikku sehingga terasa benar beratnya besi ini.Adakah sedikitair yang bisa memberiku sedikit tenaga?'
Husain memeluk eratputra kesayangannya ini. Sebentar kemudian dia julurkan lidahnya yangsuci ke mulut anaknya yang suci. "Demi Allah, lidah Husain sendirilebih kering dari ranting-ranting yang kering hadapan yang ada dipadang Karbala." Husain berkata, "Sebentar lagi kau pasti akan berjumpadengan datukmu Muhammad yang tengah menunggumu dengan segelas air daritelaga al-kautsar. Bersabarlah wahai putraku, bersabarlah..."
Ali al-Akbar kembali ke medan perang. Gerak- geriknya diperhatikan olehayahnya yang sudah mulai tua itu. Tak lama berselang, tiba-tiba Husainmenyaksikan bagaimana anak yang masih muda ini ditikam olehmusuh-musuhnya dari berbagai arah. Ada yang memukul kepalanya, menusukdadanya, menikam perutnya, bahkan ada yang melemparkan anak panahnyasehingga jatuh persis ke lehemya. Ali al-Akbar sempat berteriakmemanggil-manggil ayahnya," ya abatah (duhai ayah)'alaika minnis salam.Kini kusaksikan datukku Rasulullah s.a.w, mengucapkan salam kepadamudan memintamu agar segera datang menemuinya..." Husain mendatangiputranya ini sambil mengibas-ngibaskan pedangnya ke setiap orang yangmenghalanginya. Husain memeluk wajah Akbar yang bersimbahkan darahsuci. Husain berkata, "qatalallahu qauman qataluka ya bunayya...,semoga Allah membunuh suatu kaum yang telah membunuhmu wahai putraku.Alangkah beraninya mereka terhadap Allah; dan alangkah nekatnya merekamenganiaya keluarga Rasulullah Sungguh, wahai putraku, apalah artinyadunia ini bagiku setelah kepergianmu..."
Kini giliran Husain,tapi sebelum itu dia minta dibawakan bayinya Ali ar-Radhi'. MaksudHusain adalah ingin mencium dan memeluk sebagai pertemuan terakhirnya.Sambil memegang bayi yang tak berdosa ini, Husain terus berteriak:
Apakah masih ada orang bertauhid yang masih takut kepada Allah. Apakah masih ada orang yang mau
menolong kami. Apakah masih ada orang yang mau membela keluarga Rasulullah.
Tengah Husain memeluk dan ingin mengecup anak yang suci ini, tiba-tibaHarmalah bin Kahil melesatkan anak panahnya ke arah leher Aliar-Radhi'. Demi Allah, anak panah itu menembus lehemya.
Pekikan suara Ali ar-Radhi' sangat menyayat hati. Husainmenggeleng-gelengkan kepalanya seperti tak percaya betapa kejamnyamanusia-manusia durjana itu.
Kini Husain benar-benarsendirian. Seluruh keluarga dan sahabatnya gugur syahid satu persatu dihadapannya. Dia berdiri sendirian di kemahnya yang semakin kosong. labergumam menyebut-nyebut kebesaran Asma' Allah. Sekali- sekali Husainmelihat kemah putri-putrinya, kemudian ia menatap kembali lautan musuhyang tengah menanti untuk menyergapnya. Akhimya Husein melangkahkankakinya mendatangi kemah wanita untuk melihat putri-putri Fatimahaz-Zahra' as. Suara Husain kini tidak lagi lantang. Air matanya sudahterkuras habis. Dadanya sesak menahan napas panjang. Kerongkongannyakering dan panas. Dengan suaranya yang parau dan terbata- bata, diamemanggil satu persatu putri-putri Fatimah az-Zahra':
"Assalamu alaiki ya Sakinah! Terimalah salamku wahai Sakinah." "Assalamu alaiki ya Fatimah! Terimalah salamku wahai Fatimah:' "Assalamu Alaiki ya Zainab! Terimalah salamku wahai Zainab." " AssalamuAlaiki ya Ummu Kalthum! Terimalah salamku wahai Ummu Kalthum."
Sakinah yang kecil memeluk erat tubuh ayahnya yang kini kesendirian itu.
"Ya abatah. Ayah! Apakah salammu ini pertanda bahwa kau akan pergimeninggalkan kami? Apakah ini pertanda perpisahanmu dengan kami?"Husain merangkul putrinya yang mungil ini sambil berbisik:
"Wahai putriku Sakinah! Apakah mungkin maut tidak menjemput orang yangtidak ada pembela dan bersendirian ini. Bersabarlah putriku! Usaplahair matamu. Bersabarlah, kau akan lebih banyak lagi menangis setelahkematianku. Tolong jangan kau bakar hati ini sebelum ruhku meninggalkanbadan ini. Kelak setelah aku gugur, menangislah putriku danmenangislah!" Husein memeluk satu persatu putri-putrinya yang tidakberdosa. Juga adik-adik wanitanya yang bersamanya di Karbala, Zainabdan Ummu Kaltsum. Kemudian dia datang memeluk Ali Zainal Abidin yangsedang berbaring lantaran sakit keras. Mas'udi dalam kitabnya Ithbatal-Washiyyah meriwayatkan, Husain kemudian berwasiat kepada putranyayang sedang sakit ini al-Ism al-A'zam dan peninggalan-peninggalan warispara Nabi. Kemudian Husain juga menyampaikan bahwa ia telah menitipkanilmu-ilmu, kitab-kitab, mushaf-mushaf dan senjata warisan kepada UmmuSalamah r.a.
Usai pamit dengan keluarganya tercinta, Husainkemudian menunggang kudanya yang membawanya berhadapan denganmusuh-musuhnya yang berjumlah lebih dari tiga puluh ribu serdadu.Husain masih berupaya untuk menyadarkan mereka dan menyelamatkan merekadari kesesatan. Husain masih tetap ingin meyempumakan hujjahnya kepadaorang- orang yang sepertinya sudah ditutupkan oleh Allah hatinya. Tapihati mereka tak bergeming.
Tiba-tiba Umar bin Sa' ad berteriak:
"Celaka kalian! Tahukah kalian dengan siapa kalian berperang? Inilahputra singa orang-orang Arab. Inilah putra Ali bin Abi Thalib. Serangdia dari berbagai sisi."
Perintah Umar bin Sa' ad kemudian diikuti dengan lemparan empat ribu anak panah yang dilesatkan untuk menembak Husain.
Dengan gagahnya Husain tetap berdiri kokoh, walaupun sebagian anakpanah mengenai badannya yang mulia. "Kalian mengancamku dengan maut;kalian menakut-nakuti aku dengan anak panah. Demi Allah mati adalahlebih mulia ketimbang harus tunduk pada kezaliman. Syahid di jalanAllah lebih mulia ketimbang tunduk pada kehinaan. Husain berkata:
Mati lebih utama daripada melakukan keaiban dan lebih utama daripadamasuk ke dalam api neraka akulah Husain putra Ali tidak pemah mundurdalam membela kebenaran. Kukan pertahankan keluarga ayahku. Kukanteruskan berjalan di atas agama sang Nabi.
Peperangan yang takseimbang antara Husain dengan pasukan Umar bin Sa' ad sudah takterelakkan lagi. Tidak sedikit dari kalangan pasukan Ibnu Sa' ad yangtewas di tangan Husain.
Dalam keadaan letih dan haus yang amatsangat, Husain kemudian duduk ingin sejenak beristirahat. Riwayatberkata, tiba-tiba Abul Hatuf membidikkan panahnya yang kemudian jatuhpersis mengenai dahinya Husain. Dengan tangannya yang mulai lemah,Husain berupaya mencabut anak panah itu perlahan-lahan. Dahi Husainyang sering digunakannya untuk bersimpuh sujud di hadapan al- Khaliq,kini menyemburkan darah suci dan segar di padang pasir Karbala. WajahHusain berubah merah. Janggutnya yang putih kemilau kini bermandikandarahnya yang segar. Husain berkata:
Ya Allah! Engkau saksikan sendiri apa yang dilakukan oleh hamba-hambaMu yang durhaka ini terhadapku.
Ya Allah, hancurkan mereka, habisi mereka, dan jangan Kau sisakansatupun dari mereka di atas muka bumi ini, dan jangan juga Kau ampunimereka.
Husain kemudian berdiri lagi meneruskan perlawanannyasampai kemudian dia merasa keletihan lagi. Sejenak ia beristirahat,tiba-tiba sebuah batu besar dilemparkan ke arah dahinya dan persismengenai lukanya. Darahnya yang suci kini lebih banyak mengalirmembasahi seluruh tubuhnya. Husain meringis kesakitan. Luka-luka yangmengenai tubuhnya membuatnya tak berdaya. Imam Husain kemudianmengangkat tangannya untuk mengambil ujung bajunya guna mengusap darahyang mengalir di dahinya. Tiba-tiba sebatang anak panah beracun yangbermata tiga dibidikkan persis ke arah dadanya. Dada Husain luka.Jantung Husain robek. Anak panah tembus sampai ke belakang Husain.Husain menundukkan kepalanya sambil memegahg-megang dadanya yangmemancurkan darah segar Nabi yang mulia. Dengan suara yangterbatah-batah Husain berdo' a:
Dengan Asma' Allah
dengan bantuan Allah
dan di atas agama Rasulullah
Ilahi, Engkau Maha tahu bahwa mereka telah membunuh satu-satunya putra Nabi Mu yang masih ada di atas muka bumi ini.
Husain kemudian mencabut anak panah itu dari belakangnya, yang kemudianmemuntahkan darah segar nan suci. Perawi berkata, Husain kemudianmenampung darah-darahnya itu dengan kedua tangannya, lalu dilemparkanke arah langit. Demi Allah! Tidak setetespun dari darah itu kemudiankembali ke bumi.
Kemudian Husain menampung lagi darah yangmasih mengalir deras dengan kedua tangannya. Kemudian ia usap-usapkanke wajahnya, janggutnya, dan tubuhnya sambil berkata:
Sepertiinilah aku akan bertemu dengan datukku Rasulullah s.a.w dalam keadaanbadan ini bersimbah darah Kelak akan kukatakan kepadanya bahwa yangmembunuhku adalah Fulan bin Fulan. Melihat Husain tergeletak lemah,Umar bin Sa' ad berteriak, "Turun kalian dan penggal lehemya..." Makaturunlah sebagian makhluk-makhluk durjana itu untuk menghina Husain.Sebagian memukuli amamah atau sorban Husain sampai kepalanya luka;sebagian menusukkan pedangnya ke perut Husain; sebagian yang lainmenyabetkan pedangnya ke punggung Husain. Sedemikian buruk perlakuanmereka kepada Husain yang sudah jatuh lemah itu, sampai Imam Baqir as.berkata, "Hatta kepada anjingpun, mereka dilarang memperlakukannyaseumpama itu. Husain telah ditusuk dengan pedang, dipukul dengantombak, dilempar dengan batu, dipukul dengan kayu dan tongkat; bahkandinjak- injak dengan kuda..."
Tidak sekedar itu. Jiwa iblisUmar bin Sa' ad masih belum puas. Dendam Ibnu Ziyad terhadap Husainmasih belum tuntas. Meskipun Husain kini telah tergeletak layubersimbah darah, dalam keadaan badan nyaris tidak lagi bemyawa, merekakobarkan api permusuhan sedalam-dalamnya terhadap Husain.
Umarbin Sa’ad memerintahkan orangnya untuk turun menghabisi Husain. Shimirdan Sinan bin Anas turun dari kudanya. Melihat mereka Husain masihterengah-engah meminta air. "Sungguh, aku haus, aku Husain haus!" KataHusain. Syimir kemudian menendang dengan sepatunya yang keras. Dengansuaranya yang keras dia berkata, "Wahai putra Abu Turab! Bukankahengkau berkata bahwa ayahmu akan memberi air di telaga al-kautsarkepada orang yang dicintainya. Mintalah dari ayahmu...!" Syimirkemudian duduk di dada Husain. Dia pegang janggut Husain yang sudahbermandikan darah. Dengan senyum Husain berkata kepada Syimir, "Apakahengkau tidak kenal aku dan akan membunuhku?" Syimir menjawab, "Ya, Akumengenalmu dengan baik. Ibumu Fatimah az-Zahra'; ayahmu Alial-Murtadha, dan datukmu Muhammad al-Mustafa, pembelamu adalah AllahTa'ala. Aku tidak perduli semua itu..."
Dalam sebuah riwayat,Syimir berusaha memenggal leher Husain dari arah depan. Namun diagagal. Kemudian dia membalik Husain dengan sangat kasar dan menebaskanpedangnya dari arah belakang Husain..." setiap kali urat leher Husainterpotong, Husain berteriak, "Wa abatah, wa ummah, wa jaddah, wa'aliyyah (duhai ayah, duhai ibu az- Zahra', duhai datukku Mustafa danduha ayahku Ali..."
Riwayat berikutnya kemudian berkata,
"Mereka kemudian turun beramai-ramai dari kudanya untuk merampas setiapbarang yang ada di tubuh Husain yang mulia. Bahar bin Ka'ab melucuticelana Husain; Akhnas bin Marthad menarik sorban. Husain; Aswad binKhalid merampas sandal Husain; Umar bin Sa' ad mengambil baju perangHusain; Jami' bin al-Khalq merebut pedang Husain. Yang lebih tragislagi, Bajdal bin Sulaim mengambil cincin Husain. Kata perawi, semulaBajdal mencoba keras menarik-narik cincin Husain. Tapi dia tidakberhasil. Kemudian dia mengambil jalan pintas. Dihunuskan pedangnya kearah jari-jari Husain, dan … karena sepotong cincin, ia potong jariHusain.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
Keikhlasan Seorang Budak
Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang sangat terkenalkebaikannya. Semua orang menaruh hormat kepadanya, kepadanya, karena iatermasuk orang yang berilmu luas, di samping kedudukannya sebagai cucuRasulullah s.a.w. Kedermawanannya pun dikenal masyarakat. Ia lebihmementingkan perintah agama daripada keperluannya sendiri. Imam Husainbin Ali mencontoh sifat-sifat mulia itu dari Rasulullah s.a.w., ibunya(Sayyidah Fatimah Az Zahra a.s.), dan ayahandanya (Imam Ali bin AbiThalib as).
Husain bin Ali as. mempunyai sebidang kebun yangcukup luas. Kebun itu diurus dan dijaga oleh seorang budak yang bernamaShafi. Shafi sendiri sangat memperhatikan kebun tuannya itu. Ia merasawajib berbuat demikian karena ia memandang tugasnya itu sebagai suatuamanat. Ia adalah seorang yang jujur, lugu dan berbudi luhur. Setiaphari ia tak lupa menyirami tanaman-tanaman yang ada di kebunnya, danmengawasinya agar tidak dimasuki pencuri. Di dalam menjalankan tugasnyaitu, Shafi ditemani oleh seekor anjing yang setia. Anjing itu jugamilik tuannya.
Suatu hari, Al Husain datang ke kebunnya. Iatidak memanggil Shafi, sehingga Shafi tetap tidak tahu bahwa tuannyatelah datang. Al Husain mengawasi kebunnya. Ia melihat teman-teman daridekat, memeriksa dan memegangnya. Di tengah kesibukannya itu, ImamHusain bin Ali a.s. melihat Shafi sedang duduk beristirahat di bawahsebuah pohon, dan si anjing duduk pula berhadapan dengan Shafi.Kemudian dilihat oleh Husain, bahwa Shafi mengeluarkan sepotong rotidari kantung miliknya. Roti itu dibaginya menjadi dua bagian, separuhuntuk dia dan separuh lagi diberikan kepada anjing yang duduk dihadapannya itu. Dan mulailah roti itu dimakan.
Imam Husainmengamati Shafi yang sedang menikmati sarapan paginya. Setelah selesai,Shafi mengangkat kedua tangannya, menengadah danberdo’a:”Alhamdulillah. Ya Allah, ampunilah diriku dan diri tuanku.Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepadanya sebagaimana Engkau telahmemberkati ayah dan ibunya.”
Imam Husain memperhatikan semuaperbuatan budaknya. Ia pun mendengar doa Shafi. Ia merasa terharu.Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tetap bersembunyi.
Lama-kelamaan, Husain tak tahan lagi bersembunyi. Ia memangil budaknya:”Assalamu’alaikum hai Shafi…”
Shafi sangat terkejut mendengar suara orang memanggil. Ia kenal betul,bahwa itu adalah suara tuannya. Dengan bergegas dan terbata-bata, iamenjawab salam tuannya: “Wa ‘alaikum salam …”
Sampailah Shafidi hadapan tuannya. Ia merasa takut dan kecewa karena ia tidak mengertikedatangan tuannya. Ia menyampaikan permintaan maaf dengan kepalamenunduk. “Maafkan saya Tuan, karena saya telah lalai, sehingga sayatidak menyambutnya dengan sambutan yang seharusnya.”
“Takmengapa hai Shafi. Sebenarnya akulah yang bersalah, sebab aku telahmasuk ke kebunmu tanpa izin terlebih dahulu, “jawab Husain sambilmenepuk punggung Shafi.
“Mengapa Tuan berkata demikian. Bukankah kebun ini milik Tuan?” tanya Shafi sambil tetap merasa malu.
Husain menjawab: “Lupakan itu, hai Shafi. Sesungguhnya aku tadi telahlama memperhatikanmu. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, mengapatadi engkau berikan separuh roti sarapan pagimu kepada anjing itu?”
“Ah … Sesungguhnya aku merasa malu kepada anjing ini. Ketika aku hendakmakan, anjing itu memandangiku terus menerus. Anjing ini adalah milikTuan. Ia telah ikut menjaga kebun ini dari gangguan orang, sedangkanaku hanya mengerjakannya. Oleh sebab itu, aku berpendapat bahwa hasilyang kuperoleh dari Tuan selayaknyalah dibagi dengan anjing ini, sebabia pun berhak memperoleh itu,” jawab Shafi.
Husain bin Ali as.memandang wajah budaknya. Ia begitu kagum mendengar jawaban Shafi yangmengharukan itu. Tanpa disadari, air mata menetes dari mata Husain. Iatak kuasa lagi menahan keharuan dan kekagumannya, sehingga ia kemudianberkata: “Wahai Shafi, mulai saat ini engkau aku merdekakan. Danambillah wang dua ribu dinar ini sebagai hadiah dariku.”
Mendengar ucapan Tuannya, kini Shafilah yang merasa tidak percaya. Iamemandang Tuannya dengan penuh keharuan. Hatinya melonjak gembira,sekaligus terharu. Ia memandang wang dan Tuannya secara bergantian.Bagaimana mungkin, pikir Shafi, ia dibebaskan begitu mudah, dan diberiwang begitu banyak. Ia beranikan dirinya berkata kepada Tuannya: “TapiTuan…”
“Sudahlah,” jawab Husain memotong perkataan Shafi. “Ambillah uang itu dan engkau merdeka!”
Itulah kisah Shafi, budak Husain bin Ali a.s yang dimerdekakan karenakejujuran dan keikhlasannya. Ia telah memberikan rotinya dengan ikhlaskepada anjingnya, hingga Tuannya merasa bangga dan terharu. Dan AllahSWT pun kemudian memberikan karunia-Nya kepada Shafi, dengan memberinyabalasan yang sangat besar kepadanya